Selasa, 07 Agustus 2012

TERHEMPAS DI NEGERI TIRAI BAMBU

BAG.2


1. TAK INGIN KEHILANGAN

“Aku sudah merasa bahagia kang mas. Karena kita bisa seiring sejalan setiap hari. Pergi ke ladang, kesawah dan mencari rumput bersama setiap pagi. Jarang ada kehidupan rumah tangga yang seperti kita. Selalu bersama. Karena itu aku sangat bahagia walaupun hidup dalam kondisi yang pas – pasan. Bukankah hidup bahagia itu berdampingan seperti kita ini ?” Pasrah Leha.



Hati Kang Sholih merintih mendengarkan ketulusan dan kepasrahan Leha. Hatinya semakin sedih. Karena ia tidak sanggup membahagiakan isterinya yang sangat istimewa dibanding gadis – gadis lainnya. Ia juga merasa beruntung bisa mempersunting gadis cantik dan sholihah. Gadis yang bisa narimo ing pandum. Tidak menuntut lebih dari apa yang diberikan oleh yang Maha Kaya. Ia sangat bahagia. Tetapi dibalik kebahagiaan itu terbersit kekhawatiran. Karena masih banyak pemuda yang mengintai kecantikan Leha. Walaupun Leha sudah mempunyai dua anak. Ia khawatir kalau ia lengah menjaganya bisa juga lain kali lepas darinya. Kumbang – kumbang jalang yang terbang berkeliaran menyambar dan menghisap madunya. Ia segera istighfar, karena kekhawatirannya yang berlebihan. Kekhawatiran itu karena ia merasa terlalu mencintai Leha. Kalau saja ia tidak meletakkan cintanya kepada Leha lebih dari cintanya kepada Alloh dan Rosul – Nya, maka kekhawatiran itu tidak akan pernah muncul. Ia sadar bahwa terlalu mencintai makhluq melebihi cintanya kepada kholiq dilarang.

“Terima kasih atas ketulusanmu Leha. Semoga ketulusan itu sampai akhir hayat kita nanti. Demi ketulusanmu aku ingin membahagiakanmu. Ijinkan aku untuk mencari penghidupan yang lebih baik ! Aku ingin merantau ke suatu daerah yang lebih tinggi ongkos kerjanya. Agar mendapatkan penghasilan yang lebih dari sekarang. Sehingga ekonomi kita bisa lebih baik dari yang sekarang ini. Bisa menyisihkan sedikit dari hasil kerjaku. Tugasmu dirumah merawat dan membimbing dua anak kita. Tidak usah kerja. Agar pertumbuhan mereka terjamin dan normal seperti anak – anak orang lain seusianya.”


Berkecamuk berbagai rasa di hati Leha. Rasa haru, sedih dan takut. Haru karena suaminya ingin membahagiakan dirinya dengan merantau. Agar mendapatkan penghasilan yang lebih layak. Sedih karena akan di tinggalkan pergi merantau oleh suami tercintanya. Suami yang sholih dan sabar. Suami yang tampan yang menjadi dambaan gadis – gadis desa Langon dan sekitarnya. Ia juga takut kalau diperantauan ada gadis yang sanggup meluluhkan hati suaminya. Walaupun suaminya seorang ustadz bisa juga luluh dengan godaan gadis – gadis yang lebih segar darinya. Sehingga ia kehilangan suami yang tampan, sholih, sabar dan setia. Suami yang telah memberikan dua anak lelaki yang lucu – lucu. 


Leha memang menghendaki ekonominya meningkat. Tidak kurang sesuatu apa. Bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari – hari dan bisa menyisihkan sebagian hasil kerjanya. Mempunyai tabungan untuk masa depannya. Sehingga ada simpanan untuk anak – anaknya dimasa depan. Tetapi tidak ingin harus dengan cara berpisah dengan suami tercintanya. 


Setelah diam begitu lama Leha menarik nafas dalam – dalam. Ia memberanikan menawarkan dirinya untuk merantau.

Leha memang menghendaki ekonominya meningkat. Tidak kurang sesuatu apa. Bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari – hari dan bisa menyisihkan sebagian hasil kerjanya. Mempunyai tabungan untuk masa depannya. Sehingga ada simpanan untuk anak – anaknya dimasa depan. Tetapi tidak ingin harus dengan cara berpisah dengan suami tercintanya.

Setelah diam begitu lama Leha menarik nafas dalam – dalam. Ia memberanikan menawarkan dirinya untuk merantau.

“Maaf kang mas ! Apakah tidak ada cara lain untuk mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi tanpa harus merantau ? Aku memang menghendaki bisa mendapatkan penghasilan yang lebih baik. Tetapi aku tidak menghandaki kang mas merantau. Aku tidak ingin berpisah dengan kang mas. Aku tidak ingin kebahagiaan kita ini terampas dengan perpisahan. Usia pernikahan kita masih terlalu singkat untuk berpisah kang mas. Aku takut kehilangan kang mas.” Rintih Leha kepada suaminya dengan suara parau.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih komentarnya !!!